Kita semua sering menemui lambang
kebesaran Keraton Yogya. Tidak jarang dijumpai beberapa mobil memasang lambang
ini, ataupun di kaos-kaos, bendera, sticker, dll. Berbagai pernak-pernik juga
sering kita jumpai saat kita mengunjungi Malioboro. Nama lambang yang selalu
menghiasi bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta tersebut adalah Praja Cihna.
Nama tersebut diambil dari bahasa sansekerta Praja yang berarti Abdi Negara dan
Cihna yang berarti Sifat Sejati. Secara harafiah, Praja Cihna bisa diartikan
Sifat Sejati Abdi Negara.
Makna Lambang Keraton Yogyakarta :
1. Perbandingan ukuran 18 : 25 , untuk memperingati tahun permulaan perjuangan Pangeran Diponegoro di Yogyakarta (tahun 1825)
2. Warna Hitam : Simbol Keabadian
* Warna Kuning dan Keemasan : Simbol Keluhuran
* Warna Putih : Simbol Kesucian
* Warna Merah : Simbol Keberanian
* Warna Hijau : Simbol Kemakmuran
3. Mangayu Hayuning Bawono : Cita-cita untuk menyempurnakan masyarakat
4. Bintang Emas : Cita-cita kesejahteraan yang dapat dicapai dengan usaha dibidang kemakmuran
* Padi dan kapas: Jalan yang ditempuh dalam usaha kemakmuran pangan dan sandang
5. Perisai : Lambang Pertahanan
6. Tugu : Ciri khas Kota Yogyakarta
7. Dua sayap : Lambang kekuatan yang harus seimbang
8. Gunungan : Lambang kebudayaan
* Beringin Kurung : Lambang Kerakyatan
* Banteng : Lambang semangat keberanian
* Keris : Lambang perjuangan
9. Terdapat dua sengkala
*Gunaning Keris Anggatra Kota Praja : Tahun 1953 merupakan tahun permulaan pemakaian Lambang Kota Yogyakarta
*Warna Hasta Samadyaning Kotapraja : Tahun 1884
FLORA DAN FAUNA IDENTITAS KOTA YOGYAKARTA
Dalam rangka menumbuhkan menjadi kebanggaan dan maskot daerah telah ditetapkan pohon Kelapa Gading (Cocos Nuciferal vv.Gading) dan Burung Tekukur (Streptoplia Chinensis Tigrina) sebagai flora dan fauna identitas Kota Yogyakarta.
Keberadaan pohon Kelapa Gading begitu melekat pada kehidupan masyarakat Yogyakarta, karena dikenal sebagai tanaman raja serta mempunyai nilai filosofis dan budaya yang sangat tinggi, sebagai kelengkapan pada upacara tradisional/religius, mempunyai makna simbolis dan berguna sebagai obat tradisional.
Burung tekukur dengan suara merdu dan sosok tubuh yang indah mampu memberikan suasana kedamaian bagi yang mendengar, menjadi kesayangan para pangeran dilingkungan keraton. Dengan mendengar suara burung tekukur diharapkan orang akan terikat kepada Kota Yogyakarta.
1. Perbandingan ukuran 18 : 25 , untuk memperingati tahun permulaan perjuangan Pangeran Diponegoro di Yogyakarta (tahun 1825)
2. Warna Hitam : Simbol Keabadian
* Warna Kuning dan Keemasan : Simbol Keluhuran
* Warna Putih : Simbol Kesucian
* Warna Merah : Simbol Keberanian
* Warna Hijau : Simbol Kemakmuran
3. Mangayu Hayuning Bawono : Cita-cita untuk menyempurnakan masyarakat
4. Bintang Emas : Cita-cita kesejahteraan yang dapat dicapai dengan usaha dibidang kemakmuran
* Padi dan kapas: Jalan yang ditempuh dalam usaha kemakmuran pangan dan sandang
5. Perisai : Lambang Pertahanan
6. Tugu : Ciri khas Kota Yogyakarta
7. Dua sayap : Lambang kekuatan yang harus seimbang
8. Gunungan : Lambang kebudayaan
* Beringin Kurung : Lambang Kerakyatan
* Banteng : Lambang semangat keberanian
* Keris : Lambang perjuangan
9. Terdapat dua sengkala
*Gunaning Keris Anggatra Kota Praja : Tahun 1953 merupakan tahun permulaan pemakaian Lambang Kota Yogyakarta
*Warna Hasta Samadyaning Kotapraja : Tahun 1884
FLORA DAN FAUNA IDENTITAS KOTA YOGYAKARTA
Dalam rangka menumbuhkan menjadi kebanggaan dan maskot daerah telah ditetapkan pohon Kelapa Gading (Cocos Nuciferal vv.Gading) dan Burung Tekukur (Streptoplia Chinensis Tigrina) sebagai flora dan fauna identitas Kota Yogyakarta.
Keberadaan pohon Kelapa Gading begitu melekat pada kehidupan masyarakat Yogyakarta, karena dikenal sebagai tanaman raja serta mempunyai nilai filosofis dan budaya yang sangat tinggi, sebagai kelengkapan pada upacara tradisional/religius, mempunyai makna simbolis dan berguna sebagai obat tradisional.
Burung tekukur dengan suara merdu dan sosok tubuh yang indah mampu memberikan suasana kedamaian bagi yang mendengar, menjadi kesayangan para pangeran dilingkungan keraton. Dengan mendengar suara burung tekukur diharapkan orang akan terikat kepada Kota Yogyakarta.



Bus
yang sama sekali tidak memproduksi CO2? Ya, itu sudah ada, namun harga
per busnya masih mahal, 3 juta euro per buah. Pabrik bus Belgia Van Hool
awal bulan Juni melansir bus bebas CO2 itu, bahan bakarnya memakai air
biasa. Bus itu dapat meluncur sejauh 350 kilometer dengan bahan bakar 40
liter air, satu-satunya yang dihasilkan oleh bus itu hanyalah uap air.
Bus itu meski mahal harganya, namun sudah dipraktekkan di jalanan sejak
18 Juni 2007 melayani trayek Antwerpen - Lier di Belgia.
Selain
itu perusahaan Siemens juga menanggung sebagian biaya pembuatannya.
Total biaya yang dikeluarkan oleh Van Hool, pemerintah Belgia dan
Siemens adalah 3 juta euro per bus. Sebagai perbandingan, bus biasa yang
memakai BBM harganya cuma 150.000 euro per buah. Bus bebas CO2 itu
dipakai oleh perusahaan transportasi bus De Lijn yang merupakan
simpatisan berat kelestarian lingkungan hidup. Bus De Lijn itu pula yang
pertama memakai ba
han
bakar minyak goreng beberapa tahun yang lalu. Namun teknologi energi
selalu makin maju, para ahli menemukan bahwa pembebasan hutan tropis
untuk lahan kelapa sawit menyebabkan CO2 keluar dari tanah gambut,
kerugiannya untuk lingkungan hidup malah lebih besar dibanding
keuntungan yang didapat dari pemakaian bahan bakar kelapa sawit itu.
Karenanya pemakaian kelapa sawit sebagai bahan bakar ditinggalkan. 
Tahun
1934, bus Lo mengalami perkembangan yaitu seri LoP3100, dengan mesin
berdaya 95hp dan posisi mesin ada di sebelah pak supir (model OF seperti
sekarang) dari sebelumnya yang mesin berada di depan pak supir. Model
ini dikenal juga dengan model Pullman (P).
O 6600 H.
O321H
Setelah
dengan adanya ATPM di Indonesia dimasukan chassis bus yang didatangkan
dari Brazil secara CKD. Menurut beberapa sumber, bus mesin belakang
sudah dipasarkan dari tahun 1982. Mungkin terasa aneh karena kok
mesinnya disimpan dalam bagasi kaya VW Combi aja, mungkin kawan2 pernah
dengar cerita lucu tentang mesin belakang. Selain itu pasar belum siap
yang masih setia dengan menggunakan chassis OF yang mudah mendeteksi
gangguan mesin dan merasakan putaran mesin (gak perlu tachometer)
sehingga mesin OH baru popular di akhir tahun 1980an yang banyak
menuntut kenyamanan penumpang.
OH1113
Mesin OM 366 A, dipakai oleh OF 1113, OF 1113 with turbo, OH 1113, OH 1518, OH 1521