VTEC (Variable valve Timing and lift Electronic Control) adalah teknologi yang menggabungkan elektronika dan mekanisme untuk mengatur waktu buka katup masuk (intake) sehingga kecepatan masuk campuran antara bahan bakar dan udara tetap terjaga dalam setiap rentang putaran mesin. Mesin ini dirancang untuk dapat meningkatkan performa dibandingkan efisiensi yang mampu mencapai torsi puncak pada rpm tinggi. Tapi, masih tetap menawarkan kombinasi yang bagus baik untuk performa maupun hemat bahan bakar. Untuk Honda Jazz VTEC Compression Ratio nya adalah 10.4:1.
Minggu, 25 Desember 2011
Perbedaan Mesin VTEC dan i-DSI
Apa perbedaan mesin VTEC dan i-DSi? Keduanya sama-sama teknologi dari ATPM Honda namun memiliki karakter dan cara bekerja yang berbeda. Secara singkat bisa dikatakan fokus kedua teknologi ini antara lain: VTEC adalah Tenaga dan i-DSI adalah efisiensi.
VTEC (Variable valve Timing and lift Electronic Control) adalah teknologi yang menggabungkan elektronika dan mekanisme untuk mengatur waktu buka katup masuk (intake) sehingga kecepatan masuk campuran antara bahan bakar dan udara tetap terjaga dalam setiap rentang putaran mesin. Mesin ini dirancang untuk dapat meningkatkan performa dibandingkan efisiensi yang mampu mencapai torsi puncak pada rpm tinggi. Tapi, masih tetap menawarkan kombinasi yang bagus baik untuk performa maupun hemat bahan bakar. Untuk Honda Jazz VTEC Compression Ratio nya adalah 10.4:1.
Sedangkan i-DSi (Dual & Sequential Ignition) adalah metode pemantikan dua buah busi dalam setiap silinder dimana dalam teknologi lainnya hanya digunakan satu buah busi. Jadi saat proses pembakaran di silinder terjadi dua kali percikan busi dalam waktu berbeda yang berurutan (sequential). Cara seperti ini menjadikan pembakaran lebih sempurna. Teknologi i-DSI mampu membuat mesin menghantarkan torsi tinggi pada setiap rpm, membuat efisien/hemat bahan bakar dan mengeluarkan emisi gas buang yang lebih bersih. Untuk Honda Jazz i-DSI Compression Ratio nya adalah 10.8:1. Dengan Compression Ratio sebesar ini i-DSI bisa dibilang "anti ngelitik" alias tidak mudah mengalami knocking berkat sistem double spark ignition itu sendiri.
Jadi kalau anda bandingkan antara Honda Jazz VTEC dan i-DSi keduanya sama-sama memiliki 4 buah silinder namun Honda Jazz VTEC memiliki empat (4) buah busi sedangkan i-DSi memiliki delapan (8) buah busi.
VTEC (Variable valve Timing and lift Electronic Control) adalah teknologi yang menggabungkan elektronika dan mekanisme untuk mengatur waktu buka katup masuk (intake) sehingga kecepatan masuk campuran antara bahan bakar dan udara tetap terjaga dalam setiap rentang putaran mesin. Mesin ini dirancang untuk dapat meningkatkan performa dibandingkan efisiensi yang mampu mencapai torsi puncak pada rpm tinggi. Tapi, masih tetap menawarkan kombinasi yang bagus baik untuk performa maupun hemat bahan bakar. Untuk Honda Jazz VTEC Compression Ratio nya adalah 10.4:1.
Menguak Istilah CBU & CKD
CBU yang merupakan kependekan dari Completely Build Up adalah kendaraan yang secara keseluruhannya merupakan hasil Build-Up (rakitan) dari manufaktur orisinilnya. Istilah ini di Indonesia berkaitan dengan kebijakan pemerintah lokal untuk secara bertahap memproduksi mobil sendiri.
Tahapannya adalah dengan membangun pabrik-pabrik perakitan dan suku cadang lokal secara bertahap, sehingga muncul istilah-istilah seperti assembling, hasil rakitan lokal.
Lalu bagaimana dengan CKD atau lengkapnya Completely Knocked-down. Disini semua komponen kendaraan masih dalam bentuk lepas atau terpisah yang nantinya akan dirakit oleh ATPM lokal. Cara ini dinilai mampu menekan biaya produksi yang akan berimbas ke harga penjualan.
Contoh kendaraan CBU seperti Ferrari yang secara utuh didatangkan langsung dari negara asalnya di Italia yang di jual di Indonesia. Sementara contoh kendaraan CKD seperti Hyundai Grand Avega yang sebagian besar komponennya didatangkan langsung dari Korea dan dirakit hingga menjadi sebuah mobil untuk kemudian dijual di Indonesia.
Mengenal Istilah Engine Brake
Dalam dunia automotif istilah "engine brake" akrab ditelinga kita. Lantas sebenarnya apa arti dari istilah kata tersebut? Maksud engine break adalah pengereman dengan memanfaatkan kekuatan mesin.
Engine brake dapat dilakukan dengan cara mengurangi kecepatan dengan cara mengurangi persneling secara beruntun. Cara ini terbukti efektif jika anda terpaksa harus mengurangi kecepatan kendaraan secara spontan akibat sesuatu hal.
Jika dilakukan dengan cara-cara yang benar, cara ini termasuk salah satu perawatan kendaraan yang tidak membutuhkan biaya. Manfaat yang bisa diperolah dari penggunaan engine braking adalah bisa menghemat kanvas rem.
Cara yang benar untuk melakukan engine brake dengan menggunakan kendaraan dengan transmisi manual adalah apabila tuas transmisi sedang berada pada posisi gear lima janganlah langsung memindahkannya ke posisi gear tiga.
Sebaiknya perpindahan gear dilakukan secara teratur, misalnya dari posisi kelima lalu keempat kemudian ketiga dan seterusnya. Jika memaksakan perpindahan gear secara tidak teratur atau melompat, akibatnya akan merusak mesin.
Mobil bertransmisi otomatis juga dapat melakukan cara ini. Terutama ketika melewati jalanan menurun. Caranya, pindahkan tuas transmisi dari posisi 'D' ke posisi '2'. Jika masih kurang terasa efek pengeremannya, pindahkan tuas transmisi ke angka '1'. Namun hati-hati, bila salah penerapannya pedal rem akan terasa bergetar. Hal ini terjadi akibat fungsi cakram pada roda depan bekerja tidak merata.
Engine brake dapat dilakukan dengan cara mengurangi kecepatan dengan cara mengurangi persneling secara beruntun. Cara ini terbukti efektif jika anda terpaksa harus mengurangi kecepatan kendaraan secara spontan akibat sesuatu hal.
Jika dilakukan dengan cara-cara yang benar, cara ini termasuk salah satu perawatan kendaraan yang tidak membutuhkan biaya. Manfaat yang bisa diperolah dari penggunaan engine braking adalah bisa menghemat kanvas rem.
Cara yang benar untuk melakukan engine brake dengan menggunakan kendaraan dengan transmisi manual adalah apabila tuas transmisi sedang berada pada posisi gear lima janganlah langsung memindahkannya ke posisi gear tiga.
Sebaiknya perpindahan gear dilakukan secara teratur, misalnya dari posisi kelima lalu keempat kemudian ketiga dan seterusnya. Jika memaksakan perpindahan gear secara tidak teratur atau melompat, akibatnya akan merusak mesin.
Mobil bertransmisi otomatis juga dapat melakukan cara ini. Terutama ketika melewati jalanan menurun. Caranya, pindahkan tuas transmisi dari posisi 'D' ke posisi '2'. Jika masih kurang terasa efek pengeremannya, pindahkan tuas transmisi ke angka '1'. Namun hati-hati, bila salah penerapannya pedal rem akan terasa bergetar. Hal ini terjadi akibat fungsi cakram pada roda depan bekerja tidak merata.
Mengenal Sistem Rem ABS
REM adalah nyawa saat kita berkendara. Bisa dibayangkan betapa fatalnya sebuah kendaraan apabila tidak memiliki rem saat berjalan. Seiring berkembangnya teknologi, fitur keamanan soal rem terus berkembang, termasuk penemuan sistem Anti-Lock Breaking System atau lazim disebut ABS.
Pengertian paling sederhana tentang ABS adalah sistem rem anti terkunci. Sistem ini bekerja pada pengereman mobil untuk mencegah terjadi penguncian pada roda saat situasi terjadi pengereman mendadak.
Pengertian paling sederhana tentang ABS adalah sistem rem anti terkunci. Sistem ini bekerja pada pengereman mobil untuk mencegah terjadi penguncian pada roda saat situasi terjadi pengereman mendadak.
ABS akan bekerja menggunakan sensor saat roda mengunci setelah terjadinya pengereman mendadak. Saat sensor membaca ada roda yang mengunci, sensor akan memberi perintah kepada piston rem untuk mengendur dan mengencang kembali saat roda berputar. Proses itu berlangsung sangat cepat, mampu mencapai 15 kali setiap detik. Hasilnya, mobil dapat dikendalikan dan jarak pengereman makin efektif.
Sebelum ditemukan teknologi ABS, para pengemudi ataupun pembalap, sudah mempraktekan secara manual cara kerja dari ABS, dengan cara menekan pedal rem dan sesekali melepasnya (bahasa lainnya mengocok rem). Tapi, perlu jam terbang tinggi dari seorang pengemudi, untuk melakukan teknik ini. Sisanya, kebanyakan pengemudi menekan langsung pedal rem dengan harapan mobil akan berhenti.
Ada kesalahan persepsi pada fungsi rem menyebabkan rendahnya pemahaman soal manfaat ABS. Oleh karena itu, fungs rem ABS sama sekali tidak bisa dianggap remeh, terlebih saat kita berkendara di kondisi jalan licin.
Perlu diingat, fungsi utama rem adalah mengurangi putaran roda, bukan sebagai alat penghenti kendaraan. Alhasil, masih banyak ditemukan mobil tanpa fitur ABS akan tetap meluncur meskipun sudah menginjak rem. Ini bukan persoalan roda yang masih berputar, tapi adanya ganya gaya sentrifugal, yang berbanding lurus dengan kecepatan mobil (semakin cepat mobil, semakin besar gaya sentrifugal).
Bahaya yang ditimbulkan dari gaya sentrifugal akan melempar mobil lurus ke depan, dengan catatan kemudi juga dalam keadaan lurus. Tapi bila kemudi sedang dalam keadaan berbelok, hasilnya mobil bisa tak terkjendali dan terbalik. Disinilah ABS diciptakan untuk mengurangi gaya sentrifugal.
Langganan:
Postingan (Atom)